, ,

Bapanas Perkuat Stabilisasi Pasokan dan Harga Beras di 214 Kabupaten Dan Kota

oleh -1319 Dilihat

Bapanas Genjot Stabilisasi Harga, Beras Murah Bulog Hadir di 214 Daerah

Mediaex BauBau- Badan Pangan Nasional Bapanas secara masif memperkuat program stabilisasi pasokan dan harga beras di berbagai penjuru tanah air. Langkah intervensi strategis ini difokuskan pada 214 kabupaten dan kota yang tercatat masih memiliki harga eceran beras di atas ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.

Bapanas Perkuat Stabilisasi Pasokan dan Harga Beras di 214 Kabupaten Dan Kota
Bapanas Perkuat Stabilisasi Pasokan dan Harga Beras di 214 Kabupaten Dan Kota

Baca Juga : Gemuruh Dangdut Warnai Puncak Perayaan HUT ke-80 RI di Bone-Bone

Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi, menegaskan bahwa intervensi ini dilakukan secara spesifik dan terukur melalui penyaluran beras operasi pasar yang disediakan oleh Perum Bulog

Beras dari Bulog ini sengaja dijual dengan harga yang lebih rendah dari harga pasar rata-rata, sehingga langsung dapat meringankan beban masyarakat sekaligus menekan inflasi harga.

“Sebagai contoh, untuk beras medium di zona 1, HET-nya adalah Rp 13.500 per kilogram. Melalui program ini, Bulog hadir dengan menawarkan beras berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau, yaitu Rp 12.500 per kilogram. Dengan adanya opsi yang lebih murah ini, kami berharap dapat menciptakan efek positif yang langsung dirasakan masyarakat dan mendorong stabilitas harga di tingkat pedagang eceran,” jelas Arief dalam keterangan persnya di Jakarta.

Dua Strategi Utama: Intervensi Pasar dan Bantuan Pangan Sosial

Selain intervensi harga melalui operasi pasar, Arief juga menyoroti kesuksesan program Bantuan Pangan (Banpang) Beras yang telah menyentuh 18,2 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Program yang telah terealisasi hampir 99% ini memberikan bantuan beras sebanyak 20 kilogram per keluarga.

“Ini adalah bantuan yang tepat sasaran, langsung menyentuh lapisan masyarakat yang paling membutuhkan. Tujuannya tidak hanya untuk menjamin ketahanan pangan, tetapi juga untuk melindungi daya beli mereka di tengah gejolak ekonomi dan dinamika harga yang terjadi,” tambah Arief.

Kenaikan HET Wajar, Dukung Sustainability Rantai Pasok Petani

Arief juga memberikan penjelasan komprehensif mengenai latar belakang penyesuaian HET beras medium dari Rp 12.500 menjadi Rp 13.500 per kg sebelumnya. Menurutnya, langkah ini merupakan bentuk penyesuaian yang wajar dan diperlukan untuk mengikuti perkembangan harga gabah di tingkat petani, yang saat ini berkisar antara Rp 6.500 hingga Rp 7.000 per kilogram.

“Prinsipnya, kami harus menjaga agar seluruh mata rantai usaha tani, mulai dari petani hingga penggilingan, tetap berjalan berkelanjutan. Jika harga gabah di petani tinggi, maka harga beras pun perlu menyesuaikan. Yang membedakan adalah, dalam situasi tersebut, negara hadir melalui Bulog untuk memberikan ‘shock therapy’ positif dengan menawarkan harga yang lebih bersahabat,” paparnya.

Mentan: Produksi Melimpah, Indonesia Bebas Impor Beras

Mendukung langkah Bapanas, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan kabar gembira mengenai kondisi pangan nasional.

“Yang paling membanggakan, tahun ini Indonesia tidak melakukan impor beras komersial sedikit pun dan justru memiliki stok yang sangat berlimpah. Capaian ini merupakan buah sinergi dan kerja keras yang solid dari seluruh jajaran lintas kementerian dan lembaga, di bawah komando dan arahan langsung Bapak Presiden Prabowo Subianto. Ini adalah momentum yang patut kita syukuri bersama,” tegas Amran.

Langkah Lanjutan: Sinergi dan Teknologi untuk Ketahanan Pangan

Selanjutnya, Bapanas dan Bulog tidak hanya berhenti pada intervensi ini. Kedua institusi kini memperkuat kolaborasi dengan Dinas Pangan di seluruh provinsi dan kabupaten/kota. Mereka secara proaktif memantau harga dan stok di pasar-pasar tradisional secara harian. Melalui sistem pemantauan digital, mereka dapat mengirimkan data secara real-time untuk mengantisipasi lonjakan harga lebih dini.

Di samping itu, pemerintah juga menggencarkan program modernisasi lumbung pangan. Program ini tidak hanya menyediakan cadangan beras untuk masyarakat desa, tetapi juga memberdayakan petani untuk mengelola stoknya sendiri. Sebagai hasilnya, ketergantungan pada pasar besar berkurang dan harga menjadi lebih stabil dari hulu.

Selain itu, Kementerian Pertanian mengalihfungsikan lahan tidur menjadi area produktif. Mereka memberikan bantuan benih unggul dan pupuk bersubsidi secara tepat waktu. Kemudian, para penyuluh pertanian juga mendampingi petani secara langsung di lapangan. Akhirnya, langkah-langkah ini secara langsung mendongkrak produktivitas dan pendapatan petani.

Yang tak kalah penting, pemerintah menyiapkan skenario antisipasi untuk menghadapi ancaman El Niño. Mereka telah memulai pembangunan dan perbaikan infrastruktur irigasi di berbagai daerah. Selain itu, mereka juga mendorong adopsi varietas padi yang tahan kekeringan.

Pada akhirnya, semua langkah terintegrasi ini menunjukkan komitmen pemerintah yang kuat. Oleh karena itu, optimisme terhadap stabilitas harga pangan nasional semakin terbuka lebar.

Dior

No More Posts Available.

No more pages to load.