, ,

Gemuruh Dangdut Warnai Puncak Perayaan HUT ke-80 RI di Bone-Bone

oleh -1173 Dilihat

Gemuruh Mikrofon dan Gelak Tawa: Karaoke Meriahkan HUT RI ke-80 dan Pererat Tali Persaudaraan di Bone-Bone

Mediaex Baubau- Suasana malam di halaman Kantor Kelurahan Bone-Bone, Kecamatan Batupoaro, tidak seperti biasanya. Udara hangat malam Minggu (31/8/2025) dipecah oleh gemuruh musik dangdut dan sorak-sorai riang warga. Ini adalah malam puncak Lomba Karaoke yang digelar dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, sebuah acara yang berhasil mengubah lapangan sederhana menjadi panggung spektakuler bagi masyarakat dan sekaligus wadah perekat kebersamaan yang hangat.

Gemuruh Dangdut Warnai Puncak Perayaan HUT ke-80 RI di Bone-Bone
Gemuruh Dangdut Warnai Puncak Perayaan HUT ke-80 RI di Bone-Bone

Baca Juga : Wakil Wali Kota Baubau Tekankan Pentingnya Masa Depan Generasi Muda dalam Api Unggun Pramuka

Selama tiga hari, sejak 29 Agustus, acara ini telah menyedot perhatian warga. Namun, malam final adalah yang paling istimewa. Kursi dan tikaran yang disediakan nyaris tak mampu menampung antusiasme massa. Sorotan lampu menyilaukan menyapu kerumunan, menangkap raut wajah penuh semangat, dari anak-anak, remaja, hingga orang tua, yang semuanya larut dalam euforia yang sama.

Lebih dari Sekadar Kompetisi, Ini adalah Pesta Rakyat

Di atas panggung, para finalis dengan percaya diri membawakan lagu-lagu andalan mereka. Alunan musik dangdut koplo yang rancak menggema, mengundang decak kagum dan tepuk tangan meriah. Tak jarang, ketika seorang peserta melantunkan chorus lagu yang familier, puluhan suara dari penonton langsung menyanyi bersama, menciptakan paduan suara yang spontan dan mengharukan.

Kemeriahan acara ini semakin bermakna dengan kehadiran tokoh masyarakat. Camat Batupoaro, Muhammad Ikbal Djalaludin, dan Lurah Wameo, La Ode Taufan Jaya, hadir bukan hanya sebagai formalitas, tetapi turut duduk di tengah warga, menyaksikan setiap penampilan, dan ikut menyemangati para peserta.

Strategi Kebersamaan dari Sang Lurah Seniman

Di balik kesuksesan acara ini adalah Lurah Bone-Bone, Ramadhan, seorang alumnus Akademi Seni Rupa Jogjakarta yang visioner. Baginya, event budaya adalah alat yang powerful untuk membangun dinamika sosial. “Tahun lalu, kami sukses dengan festival kulinernya. Tahun ini, kami membaca gelagat warga yang sedang sangat antusias dengan dunia tarik suara dan musik. Daripada kami larang, lebih baik kami akomodir dan arahkan menjadi sesuatu yang positif dan kompetitif,” ujar Ramadhan dengan senyum puas.

“Ini adalah media untuk memupuk kekompakan dan kebersamaan yang nyaris terkikis oleh kesibukan individual. Kami ingin menciptakan memori kolektif yang indah bagi warga. Tentu, bonusnya, kami bisa menggali bibit-bibit penyanyi berbakat yang selama ini mungkin hanya menyanyi di kamar mandi atau sawah,” candanya.

Persaudaraan yang Terjalin dari Nada dan Lirik

Yang paling mencolok dari acara ini adalah eratnya interaksi antara warga Kelurahan Bone-Bone dan Kelurahan Wameo. Batas administratif seketika hilang. Mereka duduk berbaur, saling berbagi cerita dan kudapan, serta bersama-sama menyemangati setiap peserta yang tampil, tanpa memandang asal kelurahan. Suasana kekeluargaan yang tercipta terasa sangat tulus dan alami.

“Inilah keakraban yang luar biasa yang kami impikan,” ujar Ramadhan. “Pesan yang kami bawa dari acara ini sederhana: kedamaian, kenyamanan, dan yang paling utama, kebersamaan serta kekeluargaan. Itu semua terwujud malam ini.”

Para pemenang tidak hanya mendapatkan gelar Juara 1, 2, dan 3, tetapi juga Harapan 1, 2, 3, serta tiga penghargaan penyanyi favorit. Namun, pada akhirnya, setiap orang yang hadir pada malam itu adalah pemenangnya. Mereka memenangkan kebahagiaan sederhana, tali silaturahmi yang kembali terajut, dan bukti nyata bahwa semangat kreativitas dan seni adalah sarana yang paling efektif untuk merayakan kemerdekaan dan memperkuat persaudaraan.

Dior

No More Posts Available.

No more pages to load.