, ,

Spiritual Sakral Menghubungkan Masa Kini Dan Kejayaan Buton

oleh -910 Dilihat

Menelusuri Jejak Kemuliaan: Menyibak Makna dan Prosesi Santiago, Ziarah Suci untuk Sultan-Sultan Buton

Mediaex Bau Bau- Di jantung Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, tersimpan sebuah tradisi sakral yang menjadi penanda jasa dan kemuliaan para pemimpin masa lalu. Santiago, nama dari ritual tersebut, adalah lebih dari sekadar ziarah kubur biasa. Ia adalah sebuah drama budaya yang menghubungkan masa kini dengan kejayaan Kesultanan Buton, sebuah perjalanan spiritual yang penuh dengan simbol dan makna mendalam.

Spiritual Sakral Menghubungkan Masa Kini Dan Kejayaan Buton
Spiritual Sakral Menghubungkan Masa Kini Dan Kejayaan Buton

Baca Juga : Sorak Gemilang Dan Haru Warnai Penutupan STQH Nasional Di Kendari

Santiago merupakan prosesi ziarah ke makam para Sultan Buton yang telah mangkat. Pada masa lalu, ritual ini memiliki dua waktu pelaksanaan yang berbeda, menciptakan dua atmosfer yang unik. Ada Santiago yang digelar dari malam hingga menyambut subuh, di mana suasana khidmat dan mistis terasa begitu kental. Ada pula Santiago yang berlangsung dari pagi hingga sore hari, menampilkan kemeriahan dan keagungan di bawah terik matahari.

Rangkaian Prosesi yang Penuh Makna

Prosesi Santiago bukanlah iring-iringan yang biasa. Setiap langkah, setiap pelaku, dan setiap benda yang dibawa memiliki filosofinya sendiri, membentuk sebuah narasi tentang penghormatan dan perjalanan spiritual.

Kemeriahan diawali dengan tarian Galangi, yang berfungsi sebagai tanda bahwa perjalanan ziarah suci resmi dimulai. Para penari Galangi ini menempati posisi paling depan, membuka jalan dengan gerakan yang penuh energi.

Di belakangnya, mengalir rombongan yang terdiri dari:

  • Dua anak laki-laki pembawa tikar, simbol dari kesiapan untuk mendirikan salat dan tempat beristirahat yang sederhana.

  • Empat orang laki-laki dewasa dengan Mowiwi, sebuah tandu yang membawa bara api menyala. Bara api ini melambangkan semangat dan cahaya ilmu para Sultan yang terus menyala, menerangi kesultanan bahkan setelah mereka tiada.

  • Seorang pria pembawa dupa, yang asap wanginya menyucikan jalan dan mengusir roh-roh jahat, menyiapkan koridor spiritual menuju tempat peristirahatan terakhir para Sultan.

  • Seorang wanita berpakaian adat membawa Salawatu (air suci). Air ini nantinya akan digunakan untuk memercik atau menyiram makam, sebagai simbol pembersihan dan doa. Yang menarik, air suci ini dipayungi oleh seorang lelaki yang disebut Kinapau.

Mengapa air harus dipayungi? Seorang budayawan Buton, Imran Kudus, menjelaskan makna mendalam di baliknya. “Itu adalah simbol penghormatan tertinggi kepada Sultan yang telah mangkat,” ujar Imran. “Saat masih hidup, seorang Sultan selalu dipayungi sebagai lambang kemuliaan dan kewibawaannya. Karena beliau telah tiada, maka saat penyiraman air suci—yang mewakili kehadiran rohani beliau—kitalah yang memayunginya sebagai bentuk penghargaan yang tak lekang oleh waktu.”

Jejak Langkah dari Istana ke Makam Leluhur

Perjalanan dimulai dari Kamali Kara, istana Sultan yang terletak di Kelurahan Melai, Kecamatan Murhum. Rombongan berjalan sekitar 300 meter menuju Masjid Keraton Buton. Di sinilah mereka “menjemput” Syarana Hukumu, sebutan untuk para perangkat masjid keraton, dengan diiringi tabuhan gendang yang bersemangat.

Setelah semua unsur terkumpul, barulah ziarah inti dimulai. Destinasi pertama dan paling utama adalah makam Sultan Murhum, Sultan pertama dan pendiri Kesultanan Buton. Sepanjang perjalanan menuju kompleks pemakaman, iringan gendang terus berbunyi, mengiringi langkah para penari yang tetap menari di luar area makam.

Hanya orang-orang tertentu yang masuk ke dalam area makam untuk melakukan ziarah, yaitu para Syarana Hukumu, pimpinan daerah, dan pembawa Salawatu. Momen di dalam makam adalah puncak dari ritual, di mana doa-doa dipanjatkan dan air suci disiramkan, menyatukan alam fana dengan spiritualitas yang abadi.

Melestarikan Warisan di Tengah Zaman Modern

Dalam perkembangannya, tradisi Santiago menghadapi tantangan modernitas. Imran Kudus berharap ada komitmen bersama untuk melestarikannya. “Para pejabat dan pemangku kebijakan dapat berkolaborasi untuk mengatur waktu prosesi ini agar lebih banyak pihak yang bisa terlibat dan menyaksikan,” pungkasnya. Dengan demikian, Santiago tidak hanya menjadi ritual para tetua, tetapi juga dapat dinikmati dan dipelajari oleh generasi muda sebagai warisan budaya tak benda yang sangat berharga.

Santiago, pada akhirnya, adalah sebuah mahakarya budaya yang hidup. Ia adalah cerita berjalan tentang hormat, ingatan, dan janji sebuah bangsa untuk tidak melupakan akar dan pemimpinnya. Setiap tetesan air Salawatu, setiap hentakan tari Galangi, dan setiap kepulan asap dupa adalah sebuah ayat yang menceritakan kembali keagungan Buton.

Dior

No More Posts Available.

No more pages to load.